Senin, 21 Desember 2009

Gaji Papa Berapa ?

Seperti biasa Andrew, Kepala Cabang di sebuah
perusahaan swasta terkemuka di Jakarta, tiba di rumahnya
pada pukul 9 malam. Tidak seperti biasanya,
Sarah, putra pertamanya yang baru duduk di kelas
tiga SD membukakan pintu untuknya.
Nampaknya ia sudah menunggu cukup lama.

"Kok, belum tidur ?" sapa Andrew sambil mencium
anaknya.

Biasanya Sarah memang sudah lelap ketika ia pulang
dan baru terjaga ketika
ia akan berangkat ke kantor pagi hari.

Sambil membuntuti sang Papa menuju ruang keluarga,
Sarah menjawab, "Aku
nunggu Papa pulang. Sebab aku mau tanya berapa sih
gaji Papa ?"

"Lho tumben, kok nanya gaji Papa ? Mau minta uang
lagi, ya ?"

"Ah, enggak. Pengen tahu aja" ucap Sarah singkat.

"Oke. Kamu boleh hitung sendiri. Setiap hari Papa
bekerja sekitar 10 jam
dan dibayar Rp. 400.000,-. Setiap bulan rata-rata
dihitung 22 hari kerja.
Sabtu dan Minggu libur, kadang Sabtu Papa masih
lembur. Jadi, gaji Papa
dalam satu bulan berapa, hayo ?"

Sarah berlari mengambil kertas dan pensilnya dari
meja belajar sementara
Papanya melepas sepatu dan menyalakan televisi.
Ketika Andrew beranjak
menuju kamar untuk berganti pakaian, Sarah berlari
mengikutinya. "Kalo
satu hari Papa dibayar Rp. 400.000,- untuk 10 jam,
berarti satu jam Papa
digaji Rp.40.000,- dong" katanya.

"Wah, pinter kamu. Sudah, sekarang cuci kaki, tidur"
perintah Andrew.

Tetapi Sarah tidak beranjak. Sambil menyaksikan
Papanya berganti pakaian,
Sarah kembali bertanya, "Papa, aku boleh pinjam uang
Rp. 5.000,- enggak ?"

"Sudah, nggak usah macam-macam lagi. Buat apa minta
uang malam-malam
begini ? Papa capek. Dan mau mandi dulu. Tidurlah".

"Tapi Papa?"

Kesabaran Andrew pun habis. "Papa bilang tidur !"
hardiknya mengejutkan
Sarah. Anak kecil itu pun berbalik menuju kamarnya.

Usai mandi, Andrew nampak menyesali hardiknya. Ia
pun menengok Sarah di
kamar tidurnya. Anak kesayangannya itu belum tidur.
Sarah didapati sedang
terisak-isak pelan sambil memegang uang Rp. 15.000,-
di tangannya.

Sambil berbaring dan mengelus kepala bocah kecil
itu, Andrew berkata,
"Maafkan Papa, Nak, Papa sayang sama Sarah. Tapi
buat apa sih minta uang
malam-malam begini ? Kalau mau beli mainan, besok
kan bisa. Jangankan Rp.
5.000,- lebih dari itu pun Papa kasih" jawab Andrew

"Papa, aku enggak minta uang. Aku hanya pinjam.
Nanti aku kembalikan kalau
sudah menabung lagi dari uang jajan selama minggu
ini".

"lya, iya, tapi buat apa ?" tanya Andrew lembut.

"Aku menunggu Papa dari jam 8. Aku mau ajak Papa
main ular tangga. Tiga
puluh menit aja. Mama sering bilang kalo waktu Papa
itu sangat berharga.
Jadi, aku mau ganti waktu Papa. Aku buka tabunganku,
hanya ada Rp.
15.000,- tapi karena Papa bilang satu jam Papa
dibayar Rp. 40.000,- maka
setengah jam aku harus ganti Rp. 20.000,-. Tapi duit
tabunganku kurang Rp.
5.000, makanya aku mau pinjam dari Papa" kata Sarah
polos.

Andrew pun terdiam. ia kehilangan kata-kata.
Dipeluknya bocah kecil itu
erat-erat dengan perasaan haru. Dia baru menyadari,
ternyata limpahan
harta yang dia berikan selama ini, tidak cukup untuk
"membeli" kebahagiaan
anaknya.

from ;
Ouly Vy Emiliya (Lely)
Master of Education
(General Mainstream)
Monash University.. .the prestigious Group of Eight
universities
Victoria 3800 - Australia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar