Kamis, 16 September 2010

Menikmati Tokyo, . . .

Menikmati Tokyo, Mengintip Etalase Denyut Gaya Hidup Jepang (1)

Mal Berdiri 200 Tahun sebelum Perang Diponegoro
Di sela-sela liputan Tokyo Motor Show 2007 bersama Yamaha, Leak Koestiya dan Firzan Syahroni mengamati Tokyo sebagai pusat nadi kemajuan Jepang. Dan, Tokyo adalah etalase gaya hidup modern sejak ratusan tahun lalu.
--------------

JEPANG maju dalam hal teknologi, kita semua tahu. Olah karya tangan-tangan kreatif dari Negeri Sakura berupa barang-barang elektronik, mesin, mobil, sepeda motor, alat-alat rumah tangga telah menguasai pasar dunia. Jepang, negeri yang acap digoyang gempa itu, sejak dulu sepertinya memang diciptakan untuk terus mencipta.

Keluar dari Bandara Narita menuju Tokyo, di kiri kanan jalan terlihat dinding memanjang setinggi kurang lebih enam meter. Dinding beton keabu-abuan bermotif garis-garis itu membuat siapa saja yang melintas di sepanjang jalan menuju Tokyo tidak bisa melihat perumahan penduduk yang ada di samping jalan.

Ternyata, dinding itu adalah buah protes para penduduk yang kampungnya dilintasi jalan tol dari Tokyo ke Bandara Narita. Warga sepanjang jalan itu memprotes pemerintah karena lalu lintas mobil di jalan tol membuat tidur tidak bisa nyenyak. Suara bising membuat penduduk merasa hidupnya tidak nyaman dan terganggu.

Jalan keluarnya, diciptakanlah dinding peredam bising sepanjang kurang lebih 180 kilometer. Dinding abu-abu itu ternyata mampu meredam hingga 80 persen kebisingan yang disebabkan laju mobil dan suara knalpot berbagai kendaraan yang lewat. Protes penduduk teredam karena mereka yang tinggal di sebelah kanan-kiri jalan tol bisa kembali tidur dengan nyenyak. Sekarang, hampir semua jalur tol di Jepang yang melintasi kawasan perumahan penduduk dilengkapi dengan peredam suara serupa.

Bukan hanya jalan menuju bandara yang diprotes. Kebisingan Bandara Narita pun diprotes. Bandara internasional itu pun harus mengalah. Setiap hari, pukul 23.00 sudah harus tutup. Agak dramatis, memang. Di Jepang, yang bisnis adalah segala-galanya, ternyata masih bisa mengalah kepada warga yang ingin pulas mendengkur.

Tapi, protes demi protes itu tidak menghentikan daya kreasi Jepang. Di Tokyo, sekarang sedang dibangun jalur kereta cepat bawah tanah yang ke-13. Jalur yang paling bawah terdiri atas empat tingkat, kira-kira berada di kedalaman 70 meter di bawah permukaan tanah. Kereta-kereta itu tak ubahnya cacing-cacing raksasa di bawah metropolitan Tokyo yang mengangkut para penumpang ke berbagai penjuru dengan kecepatan tinggi. Sinkanzen, kereta berkecepatan tinggi itu, beroperasi sejak 1927.

Sebagai jantung Negeri Sakura, Tokyo tidak hanya modern dan canggih, tapi juga modis sejak 400 tahun yang lalu! Di Ginza, kawasan perbelanjaan yang paling banyak dikunjungi wisatawan, bahkan telah berdiri sebuah mal perbelanjaan yang didirikan pada tahun 1611. Ingat, Perang Diponegoro pun baru akan dimulai 200 tahun kemudian, yakni 1825. Mal itu masih kukuh berdiri hingga sekarang meski, tentu, telah mengalami renovasi berkali-kali. Sebagai tanda bangga, di kain kanopi pintu masuk ditulis besar-besar since 1611. Nama mal itu Matsuyakaya. Guide yang biasa mengantar para pelancong dari Indonesia sering menyebut Matsuyakaya sebagai singkatan dari: yang bisa masuk ya yang kaya. Matsuyakaya adalah ikon Ginza, pusat shopping yang terkenal itu. Mal delapan lantai itu bahkan sangat "dituakan" dan dihormati. Itulah kenapa, di main street Ginza hingga sekarang tidak ada mal yang dibangun melebihi ketinggian Matsuyakaya. Gedung perkantoran, hotel, dan lainnya boleh tinggi menggapai langit. Tapi, mal cukup delapan lantai.

Meski tua, mal itu tetap gesit dalam membidik pasar. Musim dingin di Jepang akan mencapai puncaknya kira-kira tiga minggu lagi. Outlet-outlet di Matsuyakaya umumnya menyambut dengan memajang rancangan pakaian berbahan tebal dan hangat. Sisa-sisa pakaian kemarin kini diobral di lantai paling atas, yaitu lantai delapan. Dengan cara itu, diharapkan para pengunjung yang hendak membeli pakaian yang didiskon melewati semua lantai di bawahnya.

Ginza adalah kawasan supermahal. Hanya butik-butik pakaian ternama yang boleh memajang dagangannya di sepanjang jalan utama. Pemerintah setempat menerapkan persyaratan ketat terhadap para produsen pakaian yang hendak menyewa tempat itu untuk memajang dan menjual karyanya. Misalnya, boleh membuka outlet di Ginza asal juga membuka cabangnya di Paris, London, dan New York. Aturan itu diterapkan agar kelas butik-butik di kawasan tersebut tidak merosot dan citra Ginza sebagai kawasan belanja kelas dunia terus terjaga. (bersambung)


Menikmati Tokyo, Mengintip Etalase Denyut Gaya Hidup Jepang (2- Habis )

Parkir Sembarangan Didenda Rp 27 Juta
Sebagai kota metropolitan, Tokyo sungguh kenyang dengan cobaan gempa. Bumi yang kerap berguncang membuat Jepang terus belajar beradaptasi dan memahami perilaku tanahnya yang kerap bergoyang. Sebagai penyangga beribu gedung pencakar langit, Tokyo tentu paling repot.

Setiap bulan Tokyo tak pernah luput dari catatan goyangan gempa bumi, meski dalam skala kecil. Tapi, umumnya warga sudah tak memedulikan lagi getaran-getaran yang terjadi pada tanah tempat mereka berpijak. Karena, arsitektur bangunan, jaringan kabel telepon, instalasi listrik, rel-rel bawah tanah, semua telah dirancang dan diciptakan sebagai sebuah struktur yang tahan gempa. Karakter gempa bumi di Jepang adalah bumi yang bergerak maju mundur dan ke kanan ke kiri.

Karena itu, semua gedung di Tokyo, baik pencakar langit maupun yang hanya beberapa tingkat, semuanya didirikan sebagai bangunan independen. Antara satu toko dan toko lain, antara satu gedung dan gedung lain, selalu terdapat jarak pemisah kira-kira 15 sentimeter. Ruang itu fungsinya, jika tanah bergerak ke kanan-ke kiri, atau maju mundur, bangunan-bangunan tetap bisa bergerak dengan elastis. Yang paling ditakuti adalah gempa bumi dengan gerakan turun naik. Terakhir gempa jenis ini terjadi di Kobe pada 1995. Kekuatannya di atas 7 skala Richter, menyebabkan semua bangunan luluh lantak dan lima ribu lebih penduduknya meninggal.

Bom atom yang dahsyat menyayat, gempa hebat bertubi-tubi, tradisi yang kuat, dan tanah sempit adalah pelatuk-pelatuk penting yang membuat Jepang menjadi semaju sekarang. Luka menganga di Hiroshima dan Nagasaki adalah spirit untuk meraih berbagai kemajuan. Tokyo, misalnya, sebagai New York-nya Jepang, seperti tak pernah luntur dengan tradisi, sopan santun sekaligus disiplin yang kuat. Hingga Tokyo menjadi seperti sekarang pun, nilai manusia seperti tak pernah melorot peringkatnya. Tradisi menghargai dan menghormati orang lain begitu kuat. Selama sepekan di Tokyo, kami berlima bersama tim marketing Yamaha Indonesia, baru mendengar klakson mobil berbunyi sekali pada hari ketiga. Pengendara mobil, pengguna sepeda motor, pejalan kaki, tak ada yang merasa diri lebih tinggi dan lebih penting. Terburu-buru boleh, tapi harus tetap taat rambu. Pejalan kaki tak perlu tengok kanan tengok kiri bila hendak menyeberang. Asal lampu rambu pejalan kaki menyala hijau, hak atas zebra cross sebagai tempat menyeberang sepenuhnya menjadi milik pejalan kaki. Kekhawatiran bakal ditabrak mobil yang main serobot karena alasan terburu-buru sungguh hal yang dianggap tak beradab. Karena itu, pelakunya bakal diganjar hukuman dan rasa malu yang amat sangat beratnya.

Mau tahu seberapa berat hukuman bagi pelaku pelanggaran aturan dan etika berlalu lintas? Sebagai kota yang minim lahan, mencari tempat parkir adalah hal yang sangat susah. Bila mobil diparkir di tempat yang tidak semestinya, pengemudi akan kena denda kurang lebih Rp 27 juta. Warga Jepang sungguh paling hobi minum bir. Sepulang kerja biasanya tak langsung meluncur ke rumah, tapi terlebih dulu makan malam di restoran sambil minum bir atau berkaraoke. Lewat tengah malam mereka baru selesai ngebir. Kalau kedapatan mengemudi mobil dalam keadaan mabuk karena pengaruh alkohol, pengemudi bakal didenda sekitar Rp 100 juta. Pengemudi mobil di Tokyo diberi batas pelanggaran dalam setahun, yaitu enam poin. Parkir sembarangan di samping didenda 27 juta rupiah, poin akan berkurang. Poin terberat adalah bila mengemudi sambil teler. Pelakunya bakal kehilangan empat poin. Nah, kalau setahun seseorang kehilangan lebih dari enam poin, pelakunya bakal dilarang mengemudi setengah tahun dan SIM ditahan. Itu pun belum cukup. Selama setengah tahun itu si pelanggar tiap dua minggu sekali diwajibkan datang ke kantor polisi untuk menyaksikan tayangan video tentang bagaimana mengemudi yang baik dan benar.

Tradisinya kuat, digitalnya hebat. Sulit kita menjumpai polisi lalu lintas yang berdiri di perempatan atau pojok-pojok jalan. Tapi, pelanggar ketertiban hampir pasti terekam kelakuan buruknya. Setiap sudut kota dilengkapi kamera CCTV untuk merekam aneka kesibukan, termasuk hal-hal yang berbau pelanggaran dan kejahatan. Gerbang-gerbang tol tanpa harus ada penjaga yang menunggui. Semua mobil yang melintas akan direkam pelat nomornya secara cepat dengan scanner digital meski mobil melaju dengan kecepatan tinggi sebelum melewati palang pintu tol.

Kalau saat makan malam terlalu banyak minum bir hingga jadi mabuk tapi tetap ingin pulang? Hati-hati, polisi yang bertugas malam selalu dilengkapi tester untuk mengetahui apakah pengemudi habis menenggak minuman beralkohol atau tidak. Cukup buka mulut lalu embuskan napas. Seketika itu juga bakal diketahui positif mabuk atau tidak. Kalau mabuk tapi tetap ingin sampai ke rumah dengan selamat? Di Tokyo banyak biro jasa yang menyediakan sopir yang akan mengantar para pemabuk pulang bersama mobilnya. (Leak Koestiya/Firzan Syahroni). jawa pos.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar